SEJARAH HABAIB

MENGENAL AHLUL BAIT (KELUARGA NABI) DAN KEUTAMAANNYA

Habib lutfi bin yahya (pekalongan)
mursyid semua thoriqoh

Keluarga Nabi Muhammad SAW dikenal dengan sebutan Ahlu al-Bait.

 Mereka adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah SWT.
Sebagaimana dalam firman-Nya :


Dari Ummi Salamah RA, “Setelah turun ayat (QS. al-Ahzab 33) Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kamu wahai ahli baik (anggota keluarga Rasulullah). Dan dia hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Maka Rasulullah SAW menutupkan kain kissa’nya (surbannya)di atas Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, seraya berkata,”Ya Allah mereka adalah ahli baitku, maka hapuskanlah dosa dri mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. (Sunan al-Tirmidzi, [2139])


Dalam Tafsir Ad-Durrul Mantsur jilid 5 halaman 198 dan 199:
Jalaluddin As-Suyuthi berkata bahwa Ummu Salamah berkata: 
Ayat ini turun di rumahku, dan di rumahku ada tujuh: Jibril dan Mikail (as), Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (ra), sementara aku ada di pintu rumahku. Kemudian aku berkata: Ya Rasulallah, bukankah aku termasuk ke dalam Ahlul baitmu? Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang baik, kamu termasuk ke dalam golongan isteri-isteri Nabi (bukan Ahlul bait Nabi saw).”

Abu Said Al-Khudri berkata: Ketika Ummu Salamah Ummul mukminin (ra) berada di rumahnya, turunlah malaikat Jibril kepada Rasulullah saw membawa ayat ini (ayat Tathhir). Kemudian Rasulullah saw memanggil Hasan dan Husein, Fatimah dan Ali (as) lalu beliau menghimpun mereka, menghampar kain untuk mereka, dan melarang Ummu Salamah berhimpun bersama mereka. Kemudian beliau bersabda: Ya Allah, mereka inilah Ahlul baitku, jagalah mereka dari dosa-dosa dan sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.”
Lalu Ummu Salamah (ra) berkata: Wahai Nabi Allah, aku bersama mereka? Rasulullah saw bersabda: “Kamu berada dalam kedudukanmu dan kamu adalah orang yang baik.”


Dalam hadits yang lain dijelaskan :

“Dari Zaid bin Arqam ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Ahli baitku, aku ingatkan kamu sekalian tentang ahli baitku”. Kemudian sahabat Hushain berkata pada Zaid, “Siapakah ahlu bait Nabi hai Zaid? Apakah istri-istrinya juga termasuk ahli bait?” Maka dijawab bahwa istri-istrinya juga termasuk ahli bait. Ahli bait adalah orang-orang yang haram menerima sedekah. Hushain bertanya lagi, “Siapakah mereka itu ? Lalu djJawab bahwa mereka itu adalah keluarga Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga ‘Abbas”. (Shahih Muslim 14425))

Termasuk keluarga Nabi SAW adalah semua keturunan beliau. Dalam hadits yang lain dijelaskan :

“Dari beberapa dalil itu dapat disimpulkan bahwa fathimah, ‘Ali, Hasan dan Husain RA termasuk keluarga Nabi SAW. Mereka semua termasuk Ahli Kisa’ yang disebutkan dalam hadits. Sedangkan istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi berdasarkan keumuman ayat al-Qur’an, serta manthuq (arti tersurat) hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi SAW, istri dan keluarga beliau”. (‘Allmui Awladakum Mahabbata Ali Bait al-Nabi, 18)

Syamsudin bin Muhammad al-sakhawi mengatakan :

“Imam Ahmad mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keluarga Nabi Muhammad SAW di dalam hadits (tentang) tasyahud adalah keluarga dalam rumah beliau. Atas dasar inilah, apakah boleh kata ahl itu menjadi ganti dari kata alu? Ada dua riwayat. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keluarga nabi Muhammad SAW adalah istri-istri dan anak cucu beliau. Sebab kebanyakan hadits yang menggunakan redaksi wa ali Muhammad. (Bahkan) ada hadits riwayat A Humaid dengan redaksi Wa azwajuh wa dzurriyatuh (istri dan keturunan Nabi SAW). Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan keluarga Nabi adalah para istri dan anak cucu beliau”. (Al-Qawl al-Badi’ fi al-Shalah ala al-Habib al-Syafi’, 81)

Penegasan bahwa istri Nabi SAW itu adalah keluarga beliau disebutkan dalam al-Qur’an :

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri. Dan istri-istrinya adalah ibu mereka”. (Al-Ahzab, 6)

Dengan demikian, keluarga Nabi Muhammad SAW adalah istri-istri beliau yang kemudian dikenal dengan ummu al-mu’minin dan keturunan Sayyidina Fatimah RA.

ANJURAN MENCINTAI AHLUL BAIT

Dan Nabi SAW sendiri memerintahkan kita umat Islam untuk menghormati dan memuliakan keluarga beliau. Dalam salah satu hadits, Nabi SAW bersabda :

“Dari Abi Said al-Khudri berkata, “Rasulullah bersabda, “sesungguhnya kau tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah (al-Qur’an) dan keluargaku”. (Sunan al-Tirmidzi, [3720])

Oleh sebab itulah, sangat wajar jika kita sebagai umat Nabi SAW’ harus menjaga dua warisan tersebut. Yakni mencintai dan menghormati mereka. Sehingga umat Islam tidak diperkenankan menyakiti apalagi mencacinya. Nabi SAW bersabda :

“Diriwayatkan dari Abi Said al-Khudri RA beliau berkata, “Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Dzat Yang Menguasai diriku, tidaklah seseorang marah (mencaci dan membenci) kepada keluargaku kecuali Allah akan menceburkannya ke dalam neraka (HR. Al-Hakim).

Maka menjadi satu keharusan bagi umat Islam untuk mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Apalagi itu diteladankan oleh ulama dan para kekasih Allah SWT. Disebutkan dalam Syarh aqidah Al-Awam:

“Sudah menjadi tradisi para ulama yang mengamalkan ilmunya dan para kekasih Allah SWT yang shalih untuk selalu mencintai keluarga Nabi”. (Mujaz al-Kalam Syarh Manzhumah’ Aqidah al-’Awam, 163)

· LARANGAN MEMBENCI DAN MENYAKITI AHLUL BAIT

Banyak sekali ayat Al – Qur’an dan hadits tentang larangan membenci ahlu bait Rasulullah saw. dan menyakiti mereka. Oleh sebab itu, setiap muslim yang ingin menyelamatkan imannya hendaklah berhati-hati, jangan sampai membenci salah seorang dari ahlu bait Rasulullah saw. Sebab dapat membahayakan ia dan kehidupannya di akhirat, dan termasuk orang yang menyusahkan beliau.

Para ulama menyebutkan hadits–hadits yang menerangkan, bahwa orang yang menyakiti ahlu bait berarti menyakiti Nabi saw, dan barang siapa yang menyakiti Nabi saw, maka sama dengan menyakiti Allah SWT, dan ia berhak mendapat murka, siksaan dan masuk dalam ancaman Allah sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela’natinya di dunia dan diakhirat. Dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”(QS. Al-Ahzab:57)

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah.” (QS. Al – Ahzab:53)

Di dalam hadits disebutkan :

“Sesungguhnya nabi SAW telah bersabda sedangkan beliau di atas mimbar,” Apa keadaan kaum yang menyakiti aku dalam nasab dan kerabatku, ingat, barang siapa yang menyakiti keturunanku dan orang – orang yang mempunyai hubungan denganku, berarti ia menyakiti aku, dan barang siapa menyakiti aku, maka ia benar-benar menyakiti Allah ta’ala,” (HR. At – Thobroni dan AL – Baihaqi)

“Sesungguhnya saya memerangi orang-orang yang memerangi ahli bait saya, dan saya memberi jaminan selamat kepada orang-orang yang berdamai dengan ahli bait saya.” (HR At- Turmudzi , Ibnu Majah dan AL – Hakim)

“Sesungguhnya Allah melarang masuk surga terhadap orang yang menganiaya ahli baitku, atau orang yang memerangi mereka, atau orang yang membantu orang yang memerangi mereka atau orang yang memaki-maki mereka.” (HR. Imam Alunad).

Sesungguhnya Nabi saw. Bersabda:” Andaikata seorang laki – laki antara hajar aswad dan maqam Ibrahim melakukan sholat dan puasa, kemudian meninggal dunia sedangkan ia membenci ahli bait Muhammad saw, maka ia masuk neraka.” (HR. At – Thabrani dan Al – Hakim)

Rasulullah saw telah bersabda: Murka Allah menjadi sangat terhadap orang yang menyakiti aku tentang keluargaku.” (HR. Ad-Dailami)

· KEUTAMAAN AHLUL BAIT RASULULLAH

Pertalian dengan Rasulullah dan bernasab dengannya itu merupakan salah satu kemuliaan yang besar. Nenek moyang dan keturunan Nabi saw. adalah orang-orang mulia, karena nasab mereka bertalian dengan nasab beliau, para ulama sepakat, bahwa para habaib adalah orang – orang paling baik keturunannya dari sisi ayah (nasab) nya, namun mereka tetap sejajar dengan lainnya dalam bidang hukum-hukum syari’ah dan hudud.

Ayat Al – Qur’an yang menunjukkan keutamaan ahlul bait Rasulullah saw. Antara lain:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih – bersihnya.” (QS. Al – Ahzab: 33)

Para ulama menjelaskan, bahwa ungkapan ahlul bait itu mencakup keluarga rumah tempat tinggal dan keluarga nasab. Istri-istri beliau adalah keluarga rumah tempat tinggal, sedangkan kerabat-kerabatnya adalah keluarga karena pertalian nasab. Banyak hadits yang menunjukkan keterangan ini. Antara lain:

“Sesungguhnya Nabi saw, mengemukakan sebuah kain pada mereka (Ali, Fatimah, Al Hasan dan Al Husain) dan bersabda, “Ya Allah, mereka adalah ahli baitku dan orang-orang khususku, hilangkan dari mereka noda dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

Rasulullah saw menutupkan kain kepada mereka dan meletakkan tangannya ke atas mereka dan bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluarga Muhammad, maka jadikanlah sholawat-Mu dan barokah-Mu kepada keluarga Muhammad, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.

Ayat lain yang menunjukkan keutamaan ahlil bait adalah :

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak kamu, isteri – isteri kami dan isteri – isteri kamu, diri kami dan diri kamu : kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya Ia’nat Allah ditimpakan kepada orang – orang yang dusta.” Qs. Ali Imran: 61)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah saw. Mengajak Ali, Fatimah, Al – Hasan dan Al Husain ra. Beliau menggendong Al – Husain, menuntun Al Hasan, Fatimah berjalan di belakang beliau sedangkan Ali berjalan di belakang mereka, dan beliau bersabda, “ Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku.”

Ayat ini adalah dalil yang tegas, bahwa anak-anak Fatimah dan keturunannya disebut anak-anak Nabi saw, dan mereka bernasab kepada nasab Rasulullah saw. Secara benar dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Dikisahkan sesungguhnya Harun Al Rasyid pernah bertanya kepada Musa AlKadzim ra seraya berkata, “Bagaimana kamu berkata-kata keturunan Rasulullah saw, padahal kamu adalah anak-anak Ali. Seorang laki – laki hanya bernasab kepada datuk dari sisi ayah, bukan datuk dari ibu?” Musa AlKadizim lalu membaca Surat Al An’am, Ayat 84 yang artinya, “ dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang – orang yang saleh.” Lalu dia berkata, “Nabi Isa as. Jelas tidak berayah, tetapi beliau dipertemukan dengan nasab para Nabi dari sisi ibundanya, demikian juga kami dipertemukan dengan nasab Nabi Muhammad saw dari sisi ibu kami, Fatimah ra. dan masih ada tambahan lagi wahai Amirul Mukminin, yaitu turunnya ayat mubahalah. Saat itu Nabi saw. tidak mengajak siapapun kecuali Ali, Fatimah, AlHasan dan AlHusain ra” (Majima’ul Ahbab)

Adapun hadits Nabi saw, yang menjelaskan keutamaan ahlul bait sangat banyak, antara lain:

Dari salamah bin Al – Akwa ra. Sesungguhnya Nabi saw Bersabda,”Bintang-bintang itu perlindungan penduduk langit, dan ahlu baitku perlindungan untuk umatku dari perbedaan.”

Dan Ali ra. Ia berkata, Rasulullah saw bersabda,”Bintang bintang itu pengaman penduduk langit, dan ahli baitku pengaman penduduk bumi. Apabila ahlu baitku hilang, maka penduduk bumi hilang, dalam suatu riwayat lain disebutkan,” Apabila Ahlu baitku binasa, maka datanglah kepada penduduk bumi tanda – tanda yang telah dijanjikan kepada mereka.” (HR. Imam Alunad)

Dari Anas ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Telah bersabda, “Tuhanku menjanjikan kepadaku tentang ahli baitku, barang siapa diantara mereka mengakui keesaan Allah, Dia tidak akan menyiksa mereka.” (HR. Al – Hakim)

Sesungguhnya nabi saw. Bersabda, “Perumpamaan ahli baitku di tengah – tengah kamu seperti bahtera Nabi Nuh, barang siapa menaikinya akan selamat dan barang siapa tertinggal darinya, akan tenggelam (binasa)”

Sesungguhnya Nabi saw bersabda,” Setiap doa itu tertutup (belum terkabul). Kecuali dibacakan sholawat untuk Muhammad Dan ahli baitnya. “ (HR. Ad-Dailami)

Imam al-Syafi’I berkata:

Hai ahli bait Rasulllah, cinta kepada kamu adalah kewajiban dari Allah dalam Al – Qur’an yang diturunkan-Nya.

Cukuplah untuk kamu bukti ketinggian derajatmu, siapa saja yang tidak membaca sholawat kepadamu, maka doanya tidak diterima.

Sebagian ulama ahli tahqiq menjelaskan bahwa siapa pun orang yang mau mencermati dan memperhatikan kenyataan kondisi kehidupan umat ini, akan menemukan ahlu bait kondisi kehidupan umat ini, akan menemukan ahlu bait pada umumnya selalu menjalankan tugas-tugas keagamaan dan berdakwah mengajak orang – orang berpegang kuat pada syari’at Nabi Muhammad saw. Pada setiap zaman selalu ada sekelompok dari ahlul bait yang sebab mereka itu Allah menyelamatkan orang-orang dari malapetaka. Mereka itu seperti disabdakan Nabi adalah pelindung untuk penduduk bumi.

Pertalian nasab dengan Rasululah. Itu bermanfaat di dunia dan di akhirat. Dalil Untuk itu sangat banyak diantaranya hadits Nabi saw, yang diriwayatkan Ibu Asakir :

Dari Umar bin Al – Khotthon ra. Dari Nabi saw bahwa setiap nasab dan hubungan keluarga melalui perkawinan di hari Kiamat nanti akan putus, kecuali nasabku dan hubungan kekeluargaan melalui perkawinan denganku.”

Rasulullah saw bersabda: ”Apa keadaan orang – orang yang menyangka, bahwa hubungan kekerabatan denganku tidak bermanfaat. Sesungguhnya setiap sebab pertalian dan nasab pada hari kiamat nanti terputus, kecuali pertalian sebab aku dan sebab nasabku. Sesungguhnya pertalian keluarga denganku itu tetap sambung di dunia dan akhirat.” (HR. Al – Bazzar dan At – Thobroni)

Dari Ibnu Mas’ud ra. Ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda diatar mimbar, “Bagaimana orang – orang yang mengatakan, bahwa keluarga Rasullah saw. Tidak memberi manfaat pada kaumnya besok di hari kiamat. Demi Allah, keluargaku tetap bersambung denganku di dunia dan di akhirat, dan sesungguhnya aku hai orang – orang, mendahului kamu semua di telaga ( Al – Kautsar)”. (HR. Aljunaid, Al – Hakim dan Al – Baihaqi)

Mengenai hadits, “Hai Fatimah puteri Muhammad, hai shofiyyah puteri Abdulah Muthollib, selamatkan diri kalian dari neraka, sebab saya tidak dapat berbuat apa – apa untuk kamu,” Para ulama menjelaskan, bahwa antara hadits di atas dan hadits-hadist tentang keutamaan ahlu bait tidak ada pertentangan, sebab arti hadits diatas adalah, bahwa rasulullah saw, tidak dapat membuat sesuatu, baik bahaya maupun kemanfaatan untuk seseorang, tetapi Allah memberinya kekuasaan memberi manfaat kepada keluarganya, bahkan seluruh umatnya melalui syafa’at umum dan khusus. Beliau tidak mempunya kemampuan berbuat, kecuali apa yang dikuasakan oleh Allah Kepadanya. Demikian juga halnya sabda Rasulullah saw. “Aku tidak dapat menghindarkan sedikitpun siksa Allah dari kamu semua. “ Artinya, hanya dengan diriku tanpa anugerah Allah yang diberikan-Nya kepadaku berupa hak memberi syafa’at, maka aku tidaklah dapat berbuat menghidarkan kamu dari siksa Allah sedikitpun. Hanya semata-mata karena anugerah Allah yang diberikan kepadaku berupa hak memberi syafa’at aku menjadi dapat memohon ampunan untuk kamu (umatku)

Iman Ahmad bin Hajar pernah ditanya oleh seseorang, “Manakah yang lebih muda, antara habib (Keturunan Rasulullah saw) yang bodoh dan orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya? Siapakah di antara keduanya yang lebih berhak dimuliakan. Jika keduanya berada dalam satu tempat?” Imam Ahmad bin Hajar menjawab, “Masing – masing dari keduanya memiliki keutamaan yang agung adapun kemuliaan habib sekalipun bodoh. Ia adalah dalam jasadnya terdapat darah dan daging mulia Rasulullah saw, yang tidak dapat ditandingi dengan apapun. Adapun kemuliaan orang yang berilmu yang mengamalkan ilmu karena ia memberi manfaat kepada kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada orang – orang sesat ke jalan Allah mereka itu adalah penerus perjuangan para Rasul Allah dan pewaris ilmu mereka. Adapun yang harus diutamakan jika keduanya berada dalam satu majelis adalah habib berdasarkan hadits :

“Dahulukanlah orang-orang Quraisy”

Mengingkari bahwa Nabi saw, memiliki dzurriyah yang mempertemukan ras dengan beliau, dengan menggunakan dalil, “Muhammad bukanlah bapak seseorang dari kamu semua. Pendapat seperti itu dan dalil yang dikemukakan jelas tidak benar, karena ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan Zaid bin Haristzah ra, yang waktu itu Nabi SAW. Mengangkatnya sebagai anak angkat, Zaid seperti anak beliau dan mengatakan Zaid bin Muhammad. Kemudian Allah melarang mengangkat anak dan melarang memberi status hukum seperti anak kandung dengan ayat :

“Panggillah mereka (anak – anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak – bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al – Ahzab: 5)

Setelah ayat ini turun, Zaid dipanggil dengan panggilan Zain bin haritsah. Ketika menjadi besar, maka dinikahkan Zainab binti Jahsy, kemudian terjadi perceraian. Setelah habis masa iddahnya, ia dipinang oleh Rasulullah saw. Untuk dinikahi sendiri. Allah mengawinkan beliau dengan Zainab seperti dalam firman-nya:

Orang-orang munafik berkata, “Muhammad menikahi istri anaknya yang tidak pernah berlaku di kalangan masyarakat.” Kemudian Allah swt. Menurunkan ayat sebagai jawaban cibirian orang – orang munafik:

“Muhammad itu sekali – kali bukanlah bapak dari seorang laki – laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi – nabi,” (QS. Al – Ahzab : 40)

Para ulama sepakat, bahwa di antaran khushusiyyah Nabi Saw. Adalah anak-anak puteri beliau bernasah kepada beliau semuanya secara sah, berdasarkan sabda beliau :

Sesungguhnya Allah menjadikan keturunan semua nabi pada sulbinya, dan Allah menjadikan keturunanku pada Sulbi Ali bin Abi Thalib. “(HR. Imam At – Thobroni)

Setiap anak laki – laki seorang ayah memiliki ashobah (penerima bagian ashabah). Kecuali dua puteri Fatimah, karena akulah wali keduanya dan ashobah mereka berdua (HR. Al – Hakim)

Mencium tangan ahlu bait Nabi saw diperbolehkan bahkan seyogyanya dilakukan sebab mencium tangan mereka merupakan taqarrub (mendekatkan) dan tawaddud (mencintai) pada Nabi saw.

Dalil boleh mencium tangan kerabat ahlil bait Nabi saw adalah apa yang dilakukan sahabat besar Nabi saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al – Hakim dan Al – Baihaqi yang di shohihkan oleh Ibnu’ Asakir dan Ibnu Abdil Barr dari Al – Sya’bi ia berkata:

Zaid bin Tsabit setelah melakukan sholat atas jenazah ibunya. Lalu keledainya didekatkan kepadanya agar dinaikinya, kemudian Ibnu Abbas memegang keledainya dan memegang kendalinya. Zaid berkata: biarkan hai putera paman Rasulullah saw. Ibnu Abbas berkata: demikianlah kami memperlakukan ulama. Zaid mencium tangan Ibnu Abbas ra dan berkata: Demikian inilah kami diperintahkan berbuat kepada keluarga Nabi kita Muhammad saw.

Imam al – Bukhori dalam al Adab al Mufrod meriwayatkan

Dari shuhaib ra, ia berkata: “Saya Telah melihat Ali bin Abi Thalib mencium tangan dan kaki Al Abbas.”

C. JALINAN PERSAUDARAAN DAN MUSIBAH PERPECAHAN SAHABAT DAN AHLUL BAIT NABI MENURUT ASWAJA

Pandangan Ahlussunnah tentang Musibah Perselisihan antara Sebagian Sahabat.

Dalam menyikapi perselisihan yang terjadi di sebagian sahabat, golongan Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah tetap berpedoman pada prinsip Tawaddu (tengah-tengah atau netral), karena meyakini bahwa para sahabat merupakan orang-orang yang mulia yang sudah seharusnya kita hormati. Di dalam kitab al-Muntakhabat disebutkan :

“Imam Syafi’i RA berkata, dan pernyataan itu juga dimiliki dari ‘Umar bin ‘Abdil Aziz RA, “Hal itu (tentang para sahabat) merupakan darah yang diciptakan oleh Allah dari tangan kami, maka sudah selayaknya lidah kita disucikan dari (membicarakan/ menghina) mereka”. (Al-Muntakhabat, 127)

Di samping itu, perselisihan di kalangan sahabat itu merupakan hasil ijtihad yang akan mendapat dua pahala kalau benar dan satu pahala jika salah. Ibn Ruslan dalam kitab Zubadnya mendendangkan syair :

“Apa yang terjadi di kalangan sahabat kita tidak berkomentar
(memihak) Dan dari pahala ijtihad maka kami menetapkannya
(Main al-Zubad, 7)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Imam Asyari sebagai tokoh golongan AN al-Sunnah wa al-jama’ah. Beliau menyatakan bahwa para sahabat merupakan orang-orang pilihan. Bahkan di antara mereka sudah mendapat jaminan surga. Sedangkan perselisihan yang terjadi hanyalah perbedaan ijtihad. Karena itu tugas kita adalah menjaga kesucian dan kemulian mereka.

“Apa yang terjadi antara Sayyidina ‘Ali RA, al-Zubair RA dan ‘Aisyah RA hal itu karena adanya perbedaan pendapat dan hasil ijtihad, dan Sayyidina ‘Ali RA lah yang menjadi pemimpin. Sebab mereka semua termasuk ahli ijtihad. Nabi Muhammad SAW telah menjamin mereka untuk masuk surga. Jaminan Nabi SAW ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dalam ijtihadnya. Begitu juga yang terjadi antara Sayyidina ‘Ali RA dan sahabat Mu’awiyah, RA. Hal itu juga terjadi karena perbedaan pendapat dan perbedaan hasil ijtihad. Semula sahabat adalah pemimpin yang terpercaya, tidak dicurigai dalam masalah agama. Allah SWT telah memuji mereka semua. Dan kita diperintahkan untuk mengakui, patuh dan menjaga kehormatan mereka. Serta mejauhkan diri dari orang-orang yang merendahkan martabat mereka RA. (Al-Ibanah ‘an Ushul al‑Dinniah,260)

Sikap netral yang dirumuskan oleh Imam Asy’ari tersebut pada hakikatnya merupakan pelaksanaan dari sikap tawassuth yang diajarkan oleh sayyidina Ali, sebagaimana pitutur beliau:

“Sebaik-baik manusia adalah golongan yang bersikap netral, yang bisa diikuti oleh orang-orang di belakangnya dan menjadi rujukan orang-orang yang berlebih-lebihan (ekstrim).” (Lisan al-’Arab, juz Juz VII, hal 299)

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa golongan Ahl sunnah wa’al-Jama’ah tetap berpegang pada prinsip tawassuth dan tawajun dalam menyikapi perselisihan di antara para sahabat. Yang diwujudkan dengan sikap diam, dan tetap meyakini bahwa sahabat Nabi SAW adalah manusia yang mulia. Karena mereka adalah orang-orang yang pertama beriman dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Kalaupun ada kekurangan pada diri mereka, namun hal itu bisa ditutupi oleh kebaikan yang mereka miliki. Dan berbeda dengan pandangan kaum Syi’ah yang menjunjung tinggi para ahlul bait (bahkan dengan akidah yang menyimpang) tanpa memuliakan para sahabat yang berselisih dengan ahlul bait.

Jalinan Persaudaraan antara Keluarga dan Sahabat Nabi Muhammad SAW

Musibah perselisihan yang terjadi pada sebagian sahabat tidak dapat dijadikan tanda kalau diantara para sahabat tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat. Justru sebaliknya , jalinan kemesraan yang bertaut di hati mereka ibarat cinta bersambut, kasih berjawab. Indahnya pergaulan antara keluarga dan sahabat Nabi SAW harus diteladani oleh umat Islam. Hal ini terungkap dari tutur kata Sayyidina Ali RA yang selalu menjunjung tinggi para sahabat sebagai manifestasi rasa cinta yang mendalam. Terutama pada sahabat besar. Dalam kitab Al-Syafi karya al-Syarif al-Murtadha yang dijuluki Alam al-Huda , Juz 2, hal 428, diceritakan tentang ucapan Sayyidina Ali RA mengenai sahabat Abu Bakr RA dan Umar RA. Sebagaimana yang dikutip dalam kitab Al-Syi’ah Minhum ‘Alaihim

“Sayyidina Ali AS berkata tentang sahabat Abu Bakr RA dan Umar RA, “ Sesungguhnya umat yang paling baik setelah Nabinya adalah Abu Bakr RA dan Umar RA”. (Al-Syi’ah Minhum ‘Alaihim, 60)

Kecintaan Sayyidina Ali RA berlangsung terus hingga sahabatnya itu meninggal dunia. Misalnya ketika Sayyidina ‘Umar RA meninggal dunia. Dalam kitab yang sama disebutkan :

“ Ketika sahabat ‘Umar dimandikan dan dikafani, Sayyidina ‘Ali RA masuk, lalu berkata, “Tidak ada diatas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah SWT dengan membawa buku catatan selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina ‘Umar)”. (Al-Syi’ah Minhum ‘Alaihim)

Sikap Sayyidina Ali ini merupakan ekspresi spontan dari lubuk hati terdalam bahwa di dalam hati beliau benar-benar tertanam jalinan kasih dan tambatan sayang kepada Sayyidina ‘Umar RA. Sebab mustahil beliau melakukannya sekedar taqiyyah(pura-pura) karena takut pada Sayyidina ‘Umar RA, sebab pada waktu itu Sayyidina ‘Umar RA telah meninggal dunia.

Begitu pula sebaliknya. Para sahabat juga sangat mencintai keluarga Nabi SAW. Terbukti dari ucapan Sayyidina Abu Bakr RA :

“Dari Aisyah RA, sesungguhnya Abu Bakr RA berkata, “Sungguh kerabat Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri”. (Shahih Bukhari,[3730])

Pada kesempatan lain, sahabat Abu Bakr RA berkata :

“Dari Ibn ‘Umar RA, dari Abu Bakr RA ia berkata, “Perlihatkan Nabi Muhammad SAW terhadap ahli baitnya”. (Shahih Al-Bukhari [3436])

Tidak hanya sampai disitu, kecintaan dan persaudaraan itu berlangsung terus hingga keturunan Nabi SAW. Bahkan kecintaan yang mendalam diantara para sahabat dengan keluarga Nabi Muhammad SAW tidak cukup dengan percakapan semata, tetapi sampai pada pembuktian yang nyata seperti memberikan nama putra mereka dengan nama para sahabat besar itu. Misalnya Sayyidina ‘Ali RA, diantara 33 putra putri beliau ada yang diberi nama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman (Imam ‘Ali bi Abi Thalib, 9). Sayyidina Hasan dan Husein juga memberi nama dua putranya’Umar dan Abu Bakr.

Thalhah

Hamzah

Ja’far

Ya’qub

Muhammad

‘Urwah

Al Husain

‘Abdurrahman

Al-Hasan

‘Umar

‘Abdullah

Abu Bakr

Al-Qasim

Zaid

Keturunan Sayyidina ‘Ali RA dengan Fathimah RA

Ummi Kulsum

Zainab

Muhassin

Husain

Hasan

Ummu Kultsum Sughra

Zainab Sughra

Sukainah

Fathimah

‘Umar

‘Ali Zainal ‘Abidin

‘Ali al-Khabir

‘Abdullah

Abu Bakr

    Thalhah Hamzah Ja’far Ya’qub Muhammad ‘Urwah Al Husain ‘Abdurrahman Al-Hasan ‘Umar ‘Abdullah Abu Bakr Al-Qasim ZaidUmmi KulsumZainabMuhassinHusainHasanUmmu Kultsum Sughra Zainab Sughra Sukainah Fathimah ‘Umar ‘Ali Zainal ‘Abidin ‘Ali al-Khabir ‘Abdullah Abu Bakr

Sumber : Allimu Awladakum Mahabbati ‘Ali Baiti al-Nabi,

DR. Muhammad ‘Abduh Yamani

Siapapun tahu bahwa orang yang memberikan nama pada anaknya, tentu dipilih nama yang paling disukai, sembari tersirat sebuah harapan semoga anak yang dimaksud dapat meneladani dan memiliki kualitas individu sebagaimana orang yang ditiru namanya.

Bahkan lebih jauh, kecintaan antara para sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW tidak hanya terbatas pada pemberian nama pada putra-putranya saja, tetapi berlanjut sampai tingkat perbesanan. Misalnya Sayyidina ‘Umar RA menikah dengan Ummi Kultsum RA putri Sayyidina ‘Ali RA, Zaid bin ‘Amr bin Utsman bin ‘Affan RA menikah dengan Fathimah binti al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. (Nasabu Quraisy li al-Zubairi, Juz 4, hal 120 dan 114)

Sudah pasti, hal tersebut tidak akan terjadi bilamana di hati mereka ada permusuhan dan dendam kesumat. Ini sebagai bukti bahwa Allah SWT melindungi para sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW dari berbagai penyakit hati.

Begitu pula sikap yang dicontohkan oleh Imam Ja’far al-Shadiq ketika beliau ditanya tentang sikapnya kepada sahabat Abu Bakr dan ‘Umar. Dalam suatu riwayat yang disampaikan al-Qadhi al-Imam Nurullah al-Syusyturi disebutkan :

“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Imam Ja’far al-Shadiq , “Wahai cucu Rasulullah SAW! Bagaimanakah sikap anda kepada sahabat Abu Bakr dan ‘Umar? “ Beliau menjawab, “Keduanya adalah pemimpin yang adil dan bijaksana. Keduanya berada di jalan yang benar dan mati dengan membawa kebenaran. Mudah-mudahan rahmat Allah SWT selalu dilimpahkan kepada keduanya hingga hari kiamat”. (Ihqaq al-Haq li al-Syusyturi, juz 1, hal 16)

Dalam konteks ini pula Imam Ja’far al-Shadiq RA berkata :

“Aku telah dilahirkan oleh Abu Bakr dua kali”. (al-Dhuraquthni)

Silsilah yang pertama dari ibunya, yang bernama Ummu Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr al-shiddiq. Dan kedua dari neneknya yakni istri al-Qashim yang bernama Asma’ binti ‘Abdurrahman bin Abu Bakr al-Shiddiq. (fathimah al-Thahiroh, RA, 113)

Ketulusan keluarga dan keturunan Nabi SAW sungguh sangat sesuai dengan kesuciannya. Salah seorang tokoh Bani Hasyim, al-Imam ‘Abdullah yang bergelar al-Mahdh, beliau adalah orang pertama yang mempertemukan keturunan Sayyidina Hasan dan Husain RA, menyatakan :

“ ‘Umar lebih baik dariku dan seisi bumi yang seperti aku. Beliau ditanyakan, “Apakah ini taqiyyah (pura-pura)?”. Beliau menjawab, “Kami sedang berada di antara makam dan mimbar Nabi SAW (kami tak akan bohong). Sungguh ini adalah ucapanku di tempat yang sunyi maupun di tempat terbuka. Maka jangan dengarkan ucapan siapapun saudaraku (yang memaki para sahabat)”. (Al-shawa’iq al-Muhriqah, 78)

Jika kita benar-benar mencintai keluarga dan keturunan Nabi SAW, tentu kita wajib mencontoh sikap santun dan kerendahan hati mereka. Sebab sebagai keluarga suci, hati dan lidah mereka jauh dari hal-hal yang mengotori semisal umpatan dan caci maki. Apalagi hasut dan dengki, tentu jauh dari mereka, sejauh dari panggang api.

Kesimpulannya, antara sahabat Abu Bakr RA, ‘Umar RA dan sahabat yang lainnya, dengan Sayyidina ‘Ali RA beserta segenap ahlul bait, terjalin hubungan persaudaraan yang sangat harmonis. Hal itu terus dilanjutkan hingga anak cucu mereka, yang selalu memberikan contoh yang terbaik dengan akhlak mulia yang patut diteladani.

(QS. al-Taubah 100) ada ungkapan:

“Allah SWT telah ridha kepada mereka dan mereka juga ridha kepada-Nya. “

Karena itu Imam Syafi’i RA memberi contoh di dalam membaca taradhdhi.:

“Diriwayatkan dari al-Rabi dari al-Syafi bahwa beliau berkata, “Manusia yang paling utama setelah Rasulullah SAW adalah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman kemudian. Semoga keridhaan Allah SWT selain tercurahkan kepada mereka”. (ManAqib al-SvAffl, juz I, hal 433)

Maka jika ada sebagian kalangan yang menuduh Imam Syafi’l RA termasuk golongan Rafidhah, yakni golongan yang menolak kepemimpinan sahabat Abu Bakr RA, ‘Umar RA dan Utsman RA. Tuduhan ini disangkal sendiri oleh beliau dalam bait syairnya :

“Mereka mengatakan, “Engkau termasuk golongan Rafidhah aku jawab, ‘tidak’. Rafidhah bukan agamaku juga bukan keyakinanku”. (Diwan al-ImAm. al-Syifi’i, 35)

D. ULAMA DAN HABAIB SEBAGAI PENERUS JALINAN SAHABAT NABI DAN AHLUL BAIT NABI

ULAMA

Firman Allah dalam surat Al-Fathir ayat 28 :

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama”

Meskipun arti Ulama’ dalam ayat tersebut menurut sebagian besar ahli tafsir tidak terbatas hanya semata orang-orang yang ahli agama, tetapi mencakup semua orang yang menyadari dan mengetahui kebesaran Tuhan dan kekuasaan-Nya di jagad raya ini, dengan argumentasi alur kalimat dalam ayat tersebut dan ayat sebelumnya mengungkapkan fenomena alam (langit, air, berbagai macam buah-buahan, gunung-gunung yang berwarna–warni, manusia, binatang, dan hewan ternak yang beraneka ragam) namun konotasi yang mudah ditangkap adalah mereka yang memiliki kelebihan keilmuan agama dan pengamalannya diatas rata-rata masyarakatnya. Apalagi dalam realitas kehidupan masyarakat cukup banyak orang-orang yang menguasai keilmuan non agama (eksakta, sosial, maupun seni) tidak menunjukkan sikap ketakutannya (khossyah) kepada Allah bahkan sebaliknya.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Ulama adalah pemimpin, dan orang-orang yang taqwa kepada Allah adalah terhormat, dan duduk bersama mereka memberikan nilai tambah”.

Hadits diatas sanadnya dinilai dlo’if, namun dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang artinya sama meskipun redaksinya berbeda, sehingga para ahli tidak keberatan menggunakan hadits ini sebagai rujukan.

Sementara itu, dalam hadits lain disebutkan kedudukan Ulama’ dalam pengertian umumnya masyarakat, antara lain seperti berikut :

“Ulama’ itu pewaris para nabi”

(diriwayatkan Imam Abui Dawud at-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari sumber Abu Darda’ RA)

“Ulama’ itu kepercayaan Allah untuk kepentingan ummat-Nya”

(diriwayatkan oleh Imam Al-Qodlo’I dan Ibnu ‘Asakir, dari sanad Anas bi Malik RA)

“Tiga kelompok orang yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) besok hari kiamat, mereka itu adalah para Nabi, para ulama’ dan syuhada”

(Diriwayatkan oleh Imam ibnu Majah dari sumber sahabat Usman bin Affan RA. Meskipun Hadits ini dlo’if, tetapi dikuatkan oleh beberapa hadits lain yang menunjang kebenarannya)

Mengenai istilah kyai sebagai pengganti istilah ulama, menurut Manfred Ziemek, istilah itu berasal dari Jawa yang mempunyai makna yang dituakan, dimuliakan, dan dituahkan. Kata tersebut lebih kurang memiliki arti yang sama dengan Ajengan (sunda), Teuku (Aceh), Syekh (Sumatra Utara), Buya (Minangkabau), dan Tuan guru (NTB dan Kalimantan). Dalam realitas kehidupan masyarakat sehari-hari ulama’ sedikitnya mempunyai tiga peran yang ditampilkan dan tiga macam peran tersebut ada yang dilakukan secara bersamaan dan ada kalanya dilakukan sebagian – sebagian atau bergantian. Peran-peran tersebut adalah :

1. Sebagai guru dan pembimbing rohani masyarakat

2. Sebagai penampung dan perumus aspirasi masyarakat

3. Sebagai pemimpin dan pengarah gerakan masyarakat

Dalam Surat AnNisa ayat 59, yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu”

“Ulil Amri” ditafsirkan sebagian ahli tafsir tidak hanya para pemimpin politis namun juga pemimpin dalam hal agama, yaitu ulama.

HABAIB (HABIB-HABIB) DAN BANI ALAWI (‘ALAWIYIN)

Habib secara bahasa artinya kekasih. Tapi dalam hal sebutan di depan nama orang itu adalah penyebutan untuk keturunan Nabi Muhammad Saw lewat puteri beliau sayidah Fathimah Az-Zahro dan sayid Ali Kwh, lewat cucu Nabi Saw yaitu sayid Hasan dan sayid Husein. Anak keturunan sayid Hasan dan Husein ini dipanggil dengan bermacam-cara penyebutan, seperti sayid (meski demikian saat ini sayid dipakai ketika memanggil orang dalam makna asli yaitu tuan), syarif, habib. Untuk penyebutan keturunan darah Nabi Saw yang wanita ada istilah syarifah, hababah dsb.

Di belakang nama habaib biasanya ada “marga” dari masing-masing keluarga, misal Alatas, Alhaddad, Aljufri, Assegaf, Baharun, Shihab, Albar, Alhasani, Alhamid, bin syeh Abu Bakar (BSA), bin Yahya dsb. “Marga” di sini bukan seperti marga orang Batak misalnya, bukan, “marga” ini hanya kebiasaan dari beliau yang kemudian dijadikan panggilan untuk keturunan beliau. Misal, Alatas. Alatas berasal dari kata bersin. Orang yg pertama kali disebut Alatas adalah Habib Umar bin Abdurrahman Alatas, orang yang ketika beliau masih dalam kandungan sudah bersin dan suara bersinnya terdengar dari luar perut ibunya. Beliau kemudian disebut Alatas di belakang namanya.

Lalu Alhaddad, orang yg pertama kali dipanggil Alhaddad adalah orang yg mampu melembutkan hati yang sekeras apapun juga. Beliau lalu disebut Alhaddad.

Assegaf, orang yg pertama kali dipanggil Assegaf adalah orang yang ilmunya luas hingga menaungi masyarakat. Beliau lalu disebut Assegaf.

Menghormati habib adalah wajib bagi yg mengetahui, menghormati disini bukan berarti membenarkan dan mengabaikan kalau beliau salah, jika ada salah satu habaib melakukan kesalahan kita wajib mengingatkan dengan cara yang lembut tanpa menyakiti apalagi mempermalukan, ada tauladan yang bisa di jadikan contoh yaitu dari  mbah kholil bangkalan. beliau meluruskan persoalan antara dua habaib dengan cara yang lembut tanpa membuat malu sedikitpun

tidak ada manusia yang ma'sum (bebas dari salah dan dosa) kecuali nabi 


menghormati dan memulyakan habaib adalah keharusan, namun jika mendapati diantara beliau beliau itu melakukan kesalahan yang menghawatirkan kalau dicontoh oleh orang awam hendaknya menasehati, jika tidak kuasa lebih baik di sampaikan kepada habaib yang sepuh supaya di ingatkan, karna fenomena ini kadang terjadi kepada beberapa habaib yang masih muda, dalam islam dianjurkan saling mengingatkan dan menasehati


manusia yang memiliki kesombongan walaupun sebesar biji sawi maka diharamkan surga baginya (al hadist)

mbah kyai hamid pasuruan yang termashur derajat kewalian nya dan diakui semua ulama
namun beliau sangat rendah hati dan tidak suka menonjolkan diri .
dari beberapa sumber menegaskan bahwa beliau ternyata juga seorang habib (keturunan nabi) namun beliau tidak pernah menonjolkan kehabibannya

Jalan habaib adalah jalan salaf karena beliau diajari bapaknya lalu bapaknya diajari kakeknya, lalu diajari oleh bapaknya kakek, dst. hingga sampai ke Alhasan alhusein, sayid Ali dan istri beliau sayidah Fathimah puteri Nabi Saw. Maka dikenallah salah satu Thoriqoh yakni Thoriqoh Alawiyyah. Thoriqoh ini terdiri dari habaib yang merupakan keturunan Nabi Muhammad yang melalui Sayyid AlFaqih AlMuqoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi. Mereka dikenal sebagai Bani Alawi atau kaum Alawiyyin.

SEJARAH SINGKAT TENTANG PERANAN ALAWIYIN DI INDONESIA

Kepadamu aku Titipkan Al-Qur’an Dan Keturunanku….

(Al-Hadith Rasullah s.a.w. Dirawikan oleh Imam Ahmad Ibn Hambal)

A. PENDAHULUAN

Pada zaman kekhalifahan Bani Abbas (750-1258 M) berkembanglah ilmu pengetahuan tentang Islam yang bercabang-cabang, tumbuh pula penyimpangan dari ajaran agama Islam. Dibentuknya dinasti Bani Abbas yang turun-temurun mewariskan kekhalifahan. Istilah “muslim bila kaif” telah menjadi lazim. Hidupnya keturunan Sayidatina Fatimah Al-Zahra dicurigai, tiada bebas dan senantiasa terancam, ini karena pengaruh anak cucu dari Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. pada rakyat sangat besar dan disegani. Keinginan kebanyakan Muslim adalah seorang keturunan Nabi yang seharusnya memegang kekhalifahan. Sehingga banyak yang dipenjara dan dibunuh sehingga banyak pula yang pindah dan melarikan diri dari pusat Bani Abbas di Baghdad,

AHMAD BIN ISA r.a.

Dalam keadaan sebagaimana yang diuraikan di atas, supaya memelihara keturunannya dari kesesatan maka sayyid AHMAD BIN ISA BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN AL-HUSEYN r.a. sesuai doanya sayidina Ibrahim a.s. yang tersurat dalam Al-Qur’an surat 14 ayat 37:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

maka dipilihnya Hadramaut yang tidak bertetanaman, untuk menetap dan berhijrahlah beliau dari Basrah ke Hadramaut, dimana beliau wafat di Hasisah pada tahun 345 H.

ALWI BIN UBAIDILLAH

Keturunan dari AHMAD BIN ISA tadi yang menetap di Hadramaut dinamakan ALAWIYIN ini dari nama cucunya ALWI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD BIN ISA yang dimakamkan di Sumul.
Keturunan sayidina Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. disebut juga ALAWIYIN dari sayidina Ali bin Abi-Talib kw, Keluarga Al-Anqawi, Al-Musa-Alkazimi, Al-Qadiri dan Al-Qudsi. Kebanyakan di Indonesia adalah Alawiyin keturunan dari Alwi bin Ubaidillah.

MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM

Luput dari serbuan Hulagu Khan, maharaja Cina, yang menamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M), yang memang telah dikhawatirkan oleh AHMAD BIN ISA, maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Talib r.a. Ini ternyata pula hingga kini dari istilah-istilah dalam logat orang Hadramaut. Dalam menjalankan “tugas suci” menyebarkan islam, ialah pusaka yang diwariskannya, banyak dari pada suku Alawiyin tidak segan-segan mendiami di lembah yang tandus. Tugas suci itu terdiri dari mengadakan tabligh-tabligh, perpustakaan-perpustakaan, pesantren-pesantren (rubat) dan masjid-masjid.

Alawiyin yang semula bermazhab “Ahli-Bait” mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi-I Al-Quraisyi, (mazhab Syafi-I), Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam ini wafat di Tarim pada tahun 653 H.

ALAWIYIN DI INDONESIA

Perlu diketahui pula bahwa penyebaran islam sebagian besar adalah berkat jasa dari bani alawiyin.

Selain itu, dapat disimpulkan bahwa diantara mubaligh-mubaligh Islam yang datang pertama kali ke Indonesia terdapat golongan Alawiyin keturunan Sayidina Hasan dan Sayidina Husein bin Ali, baik yang berasal dari Makkah dan Madinah maupun yang kemudian menetap di Yaman dan sekitarnya. Ada kemungkinan bahwa sebelum sampai ke Indonesia mereka singgah beberapa waktu di Gujarat, pantai barat India sebelum meneruskan perjalan ke Timur (Indonesia, Malaysia Dan Filipina). Mereka berlayar ke Timur untuk berdagang, dan juga menyelamatkan diri dari pemerintahan Bani Umayah atau tidak mau melibatkan diri dalam perang saudara yang terus-menerus berkecamuk, mereka ini secara aktif melakukan dakwah ke India, Indonesia dan juga ke Tiongkok, dengan sendirinya pun ke daerah-daerah yang terletak pada garis Arab-Tiongkok seperti Melaka (Malaysia) dan Filipina.

Islam telah dikenal di sumatera Utara sebelum abad III H dan di bawa oleh para pedagang Arab dan Persi. Kerajaan Islam Perlak didirikan pada 1 Muharrom 225 H (840 M), dengan Sayid Maulana Abdul Aziz Shah sebagai sultannya yang pertama, bergelar Sultan Alaudin Sayid Maulana Abdul Aziz Shah. Ayahnya ialah Sayid Ali bin Muhammad bin Jafar Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Sayidina Husin bin Sayidina Ali bin Abi Tholib dan Fatimah Bin Rosululloh SAW, dinikahkan oleh Muerah (Raja) Perlak Syahrir Nuwi dengan adik kandungnya bernama Putri Makdum Tansyuri.

Dalam perkembangan selanjutnya, kaum Alawiyin dari keturunan Ahmad Al Muhajir bin Isa memegang peranan penting dalam penyebarluasan di daerah-daerah Asia Tenggara termasuk pulau Jawa yang sampai abad XIV M masih dikuasai oleh kerajaan Majapahit yang beragama Hindu.

Terdorong oleh keinginan mencari kehidupan materi yang lebih baik di samping menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia, banyak dari mereka pergi meninggalkan Hadromaut, ada yang ke Barat sampai ke Somalia, Jibuti, Eritrea, Madagaskar dan lainnya, dan adapula yang ke timur sampai ke India, Cina, Kampucea Sia, Pilipina, Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Di setiap negeri yang di kunjungi, mereka langsung membaur dengan rakyat setempat dan menggunakan nama-nama dan gelar-gelar yang dipakai secara umum. Dengan keluhuran akhlak dan kehidupan bersahaja serta ketaatan kepada agama seperti yang diwarisi dari para leluhur, mereka berhasil memikat hati penduduk setempat sehingga dalam waktu yang relatif singkat, Islam telah menyebar dan meluas di berbagi daerah di Asia Tenggara termasuk kepulauan Indonesia. Di antara mereka yang sangat terkenal ialah keturunan Abdul Malik bin Alwy bin Muhammad (Shohib Mirbath) bin Ali (Kholi Qosam) bin Alwy bin Muhammad bin Alwy bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir. Sayid Abdul Malik tersebut pergi dari Hadromaut dan menetap di India dan anak cucunya membaur dengan penduduk negeri dan menggunakan nama-nama dan gelar-gelar India. Dalam buku nasab kaum Alawiyin, mereka disebut sebagai keluarga Adzamat Khan. Diantara mereka pergi ke Asia Tenggara yang diantara anak cucunya kemudian dikenal di Indonesia sebagai Wali Songo.

Jamaluddin Husain al-Akbar adalah orang pertama dari keluarga Adzamat Khan yang datang dan menetap di Indonesia. Ia adalah putra Ahmad jalal Syah (lahir dan wafat di India) bin Abdullah khan bin Abdul-Malik (wafat di India) bin Alwi (wafat di Tarim Hadromaut) bin Muhammad (Shahib Marbath) dan seterusnya sampai Imam al-Muhajir. Jamaluddin datang ke Indonesia dengan membawa keluarga dan sanak kerabatnya, lalu meninggalkan salah seorang putranya bernama Ibrahim Zain al-Akbar di Aceh untuk mengajarkan tentang Islam, sedangkan ia sendiri mengunjungi kerajaan Majapahit di Jawa kemudian merantau lagi ke daerah Bugis (Makassar dan Ujung pandang) dan berhasil dalam penyiaran Islam dengan damai sampai ia wafat di daerah Wajo, Makassar. Ia meninggalkan tiga orang putra, yaitu Ibrahim Zainuddin al-Akbar (yang ditinggal oleh ayahnya di Aceh), Ali Nurul Alam dan Zainal Alam Barakat.

Ibrahim Zainuddin al-Akbar  (alias Ibrahim Asmoro) wafat di Tuban Jawa Timur dan meninggalkan tiga orang putra yakni: Ali Murtadha, Maulana Ishaq, (ayah dari Muhammad Ainul Yakin /Sunan Giri) dan Ahmad Rahmatulloh Sunan Ampel (ayah dari Ibrohim Sunan Bonang, Hasyim Sunan Drajat, Ahmad Husanuddin Sunan Lamingan, Zainal Abidin Sunan Demak, Jafar Shodiq Sunan Kudus).

Ali Nurul Alam putra dari Jamaluddin Husein Al Akbar, wafat di Anam (Siam) meninggalkan seorang putra yaitu Abdulloh Khan yang wafat di Kamphuchea (Kamboja). Dua orang putra Abdulloh beliau adalah Baabulloh Sultan Ternate dan Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati (ayah dari Sultan Hasanuddin, Sultan Banten yang pertama).

Zainal Alam Barokat, putra ketiga dari Jamaluddin Husen Al Akbar, wafat di Kampuchea atau di Cermin, meninggalkan dua orang putra yaitu Ahmad Zainal Alam dan Maulana Malik Ibrohim (wafat di Gresik).

Dari kalangan keluarga Alawiyin lainnya tercatat nama-nama para pahlawan kemerdekaan RI antara lain Pangeran Diponegoro, nama beliau adalah Mas Ontowiryo beliau lahir pada tanggal 17 Nopember 1785, ayah beliau adalah Hamengkubuwono III ( Sayid Husein bin Alwy Baabud ). Tuanku Imam Bonjol nama beliau adalah Muhammad bin Shahab lahir pada tahun 1772 ayah beliau seorang ulama yang bernama Sayid Khatib Bajanuddin Bin Shahab dll.

Selanjutnya dapat disebutkan disini beberapa nama lainnya yang berjasa dibidang dakwah dan pendidikan mulai sekitar tahun 1800 M, antara lain :

Ü Habib Abdulloh bin Mukhsin AlAthos, Keramat empang, Bogor

Ü Sayid Idrus bin Salim Al Jufry di Palu, Sulawesi penyebar Islam di wilayah Timur

Ü Habib Ali bin Abdurrohman Al Habsyi, pendiri Islamic Center yang terletak di Kwitang

Ü Sayid Muhammad bin Abdurrohman bin Shahab, seorang ulama besar dan sangat memperhatikan kaum lemah seperti anak yatim piatu, janda, fakir miskin. Salah seorang pendiri Jamiatu Khair

Ü dan masih banyak sekali.

Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap dicinta dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat sebagaimana juga di negara islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin diikuti dalam Perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya.

Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000 orang; ada banyak yang besar, antara mana Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habsyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-Haddad dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Da-imi yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul-alawiyin yang berpusat di gedung “Darul Aitam” jalan K.H. Mas Mansyur (dahulu jalan Karet) No. 47, Jakarta Pusat (II/24).

E. PENJELASAN MENGENAI WALIYULLAH DAN KAROMAHNYA

Menurut bahasa, kata wali berarti orang yang mencintai, teman dan penolong. Sedangkan menurut istilah, Syaikh Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi mengatakan:

“Kata Wali itu mempunyai dua pengertian. Pertama, sebagai obyek yaitu seorang yang segala urusannya diserahkan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Dia melindungi orang-orang yang shaleh ” (QS. Al-A’raf, 196). Oleh sebab itu, seorang wali tidak pernah Menyerahkan urusan kepada dirinya sedikitpun, tapi diserahkan semuanya kepada Allah SWT. Kedua, sebagai subyek yaitu seorang yang selalu menjaga ibadah dan ketaatannya kepada Allah SWT. Ibadahnya selalu berjalan di atas penyerahan diri kepada Allah tanpa dikotori oleh kemaksiatan”. (Al-Risdlah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, 259-260)

Allah SWT berfirman :

“Ingatlah, sesungguhnya wali Allah itu tidak ada kekhawatiran kepada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang¬ orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa“. (QS. Yunus, 62-63)

Dari sini bisa disimpulkan bahwa waliyullah itu adalah orang mukmin yang senantiasa patuh pada perintah Allah SWT dan tidak pernah melanggar larangan-Nya. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah SWT. Baginya hanya Allah SWT tempat berlindung, sumber pertolongan, penghambaan dan pengabdian. Jadi, dia tidak pernah melakukan apa saja: mendengar, melihat, melangkah dan sebagainya, kecuali dengan apa yang disenangi dan diridhai oleh Allah SWT. Selain itu seorang bisa dikatakan wali jika dia mengikuti syari’at Rasulullah SAW. Syaikh al-Qusyairi mengatakan :

“Dua sifat (di atas) wajib (bagi seorang wali), sehingga seseorang yang dikatakan wali wajib menegakkan hak-hak. Allah ta’at secara maksimal dan sungguh-sungguh serta selalu dalam perlindungan Allah SWT baik dalam keadaan suka maupun duka/kesulitan“. (Al-Risalah al-Qusairiyah fi’iim al-Tashawwuf, 260).

Dengan demikian, tidaklah mudah bagi seseorang mengaku dirinya sebagai wali tanpa disertai ketaqwaan yang maksimal dan ketulusan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Wali Allah bukanlah orang yang memiliki kesaktian luar biasa yang dapat membuat orang semua takjub kepadanya, sedangkan dirinya jauh dari tuntunan dan ajaran agama. Syaikh Muhammad al-Adawi mengatakan :

“Pemahaman wali sebagai orang yang memiliki karomah (kelebihan luar biasa) adalah merupakan sesuatu yang berbeda. Apabila seseorang memiliki kelebihan di luar kebiasaan manusia biasa, maka orang tersebut belum tentu disebut sebagai Wali Allah SWT. Yang pertama kali harus dilihat apakah tingkah laku kesehariannya sesuai dengan al-Qur’an atau Hadits. Jika tingkah lakunya sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW maka ia adalah Wali Allah. Tetapi bila tidak sesuai maka dia bukanlah Wali Allah. Abu al-Qasim al¬junaid berkata, “Ilmu kita (para wali) selalu dikaitkan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Siapa saja yang tidak mau membaca al-Qur’an dan menulis hadits maka la tidak pantas untuk membicarakan ilmu kita ini, atau ia berkata “Orang itu tidak pantas untuk diikuti” (Al¬Syarh al-Jadid li jawharah al-Tauhid, 115)

Karena itu, orang yang mengaku dirinya sebagai wali, tapi meninggalkan syariat, maka pengakuannya itu adalah dusta semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hadhratussyaikh KH. Hasym’Asy’ari mengutip dari kitab Nathij al-Afkar sebagai berikut :

“Siapa apa saja yang mengaku dirinya menjadi wali tanpa bukti bahwa dia mengikuti syari’at Nabi Muhammad SAW, maka pengakuan orang tersebut adalah dusta dan palsu “. (Al-Durar al-Muntatsirah fi al-MasWil al-Tis’a ‘Asyarah, 4)

Lebih lanjut, Syaikh al-Qusyairi menyebutkan tentang ciri-ciri seorang waliyullah:

“Tanda-tanda wali ada tiga. Aktifitasnya hanya untuk Allah SWT, segala hal dikembalikan kepada Allah SWT dan cita-cita(semangat juang)nya hanyalah Allah SWT semata“. (Al-Risalah al¬Qusyairiyah fi ‘llm al-Tashawwuf, 260)

Untuk mencapai ciri kewalian tersebut, seseorang haruslah terjaga dari kemaksiatan (mahfuzh).

“Di antara syarat wali adalah harus terjaga dari kemaksiatan (mahfuzh) sebagaimana syarat Nabi harus juga terjaga dari kemaksiatan (ma’shum)“. (Al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘llm al-Tashawwuf, 260).

Adapun yang dimaksud dengan mahfuzh adalah :

“Yang dimaksud dengan wali itu mahfuzh (terjaga dari dosa) adalah bahwa wali ltu dijaga oleh Allah secara terus-menerus dari ketergelinciran dan kesalahan. Apabila ia terjatuh ke dalam dua hal itu, dia langsung diilhami untuk bertaubat, sehingga dia bertaubat dari ketergelinciran dan kesalahan tersebut“. (Al-Durar al-¬Muntatsirah fi al-Masa‘il -al-Tis’a ‘Asyarah, 5)

Seringkali para wali itu memiliki kelebihan dan kelemahan yang tidak dimiliki oleh manusia umumnya, yang dikenal dengan karamah. Apa yang disebut dengan karamah? Betulkah karamah itu ada? Dalam al-Syarh al -jadid li Jawharah al-Tauhid disebutkan:

“Tetapkanlah olehmu bahwa para wali itu mempunyai karamah, dan barang siapa yang mengingkarinya, jangan pedulikan ucapannya”. (al-Syarh al-Jadid li jawharah al-Tauhid, 113)

Lebih jelas lagi, Ibn Taimiyyah mengatakan :

“Kaum Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah mempercayai adanya karamah para Wali. Karamah adalah perkara yang luar biasa tanpa bersamaan dengan pengakuan kenabian. jika diikuti dengan pengakuan kenabian, maka disebut dengan mukjizat“. (Syarh al¬”Aqidah al-Wasithiyyah, 82)

Karamah merupakan perkara yang tidak diragukan lagi keberadaannya. Sebab itu sudah terbukti sejak lama. Ibn Taimiyyah mengatakan :

“Perkataan (cerita yang telah disebutkan dalam Surat al-Kahfi dan lainnya tentang umat terdahulu, baik sahabat, tabi’in, serta umat yang lainnya) hal itu memberikan gambaran akan adanya karamah yang terjadi dan dicantumkan dalam al-Qur’an serta dalil-dalil lain yang shahih. Diantara karamah yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang umat terdahulu adalah tentang kehamilan Maryam RA tanpa adanya seorang suami. Dan cerita yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang kisah hidup Ashhab al-Kahfi, cerita sahabat Musa dan cerita sahabat serta cerita Dzulqarnain“. (Syarh al-”Aqidah al Wasithiyyah)

Namun, tidak semua wali memiliki karamah. Dan tidak semua perkara luar biasa itu merupakan karamah yang menunjukkan kewalian seseorang. Yang disebut karamah apabila hal itu timbul dari orang-orang yang selalu berpegang teguh pada aturan dan tuntunan agama Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Syarh al-Jadid li jawharah al-Tauhid :

“Tidak ada talazum. (keterkaitan yang erat) antara wali dan perkara luar biasa yang dimiliki seseorang. Kadang kala seseorang menjadi wali, dan tidak nampak perkara yang luar biasa pada dirinya. Dan tidak jarang pula perkara luar biasa itu “muncul dari musuh Allah SWT sebagai sebuah fitnah“. (Al-Syarh al-Jadid Ii jawharah al¬Tauhid , 1161)

Lebih jelas Abi Yazid al-Busthami, seorang sufi besar menyatakan:

“Andaikata kamu melihat seseorang memiliki keramat sehingga bisa terbang di udara, maka janganlah kamu tertipu dengan peristiwa tersebut. Tetapi perhatikanlah terlebih dahulu bagaimana sikap dia dalam melaksanakan perintah dari larangan Allah SWT, menjaga ketentuan-ketentuan agama serta dalam melaksanakan syari’at“. (Qadhiyyah al-Tashawuf al-Munqidz min al-Dhalal, 130)

Dari paparan singkat ini ada beberapa hal yang dapat kita petik. Pertama, wali adalah hamba Allah yang sangat cinta kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab Allah SWT dan sunnah Rasul-Nya. Melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya. Kedua, karimah merupakan perkara luar biasa yang dimiliki oleh seorang wali Allah SWT, meskipun tidak semua wali memilikinya.

Referensi:

Tanya Jawab Praktis Ahlussunnah Wal Jamaah

Makalah Susunan Ustadz Dawud Arif Khan mengenai Aqidah ASWAJA

potrethabaib.multiply.com

santribuntet.wordpress.com



Wallohu a'lam



Blog saya yang lain : ,,,