DIALOG IBNU ATHAILAH DAN IBNU TAIMIYAH

Dialog dua ulama
Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari dengan Ibn Taymiyah

Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The
Debate with Ibn Taymiyah Ditranslasi dari buku karya Syaikh Muhammad
Hisyam Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi,
1996) Diambil dari http://mevlanasufi.blogspot.com

Bismillahi ar rahmani ar rahiim
Abu Fadl Ibn Athaillah Al Sakandari (wafat 709), salah seorang imam
sufi terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang muhaddits,
muballigh sekaligus ahli fiqih Maliki, adalah penulsi karya-karya
berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi
Makrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus,
Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq, sebuah biografi: Al-Lataif fi
manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-
lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686) dan
generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al
Hasan Al Sadzili.

Ibn Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibn Taymiyah atas
serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham
dengannya. Ibn Athaillah tak pernah menyebut Ibn Taymiyah dalam
setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibn
Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lataif: sebagai “cendekiawan ilmu
lahiriyah”.1 Halaman berikut ini merupakan terjemahan Inggris
pertama atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.

Naskah Dialog :
Dari Usul al-Wusul karya Muhammad Zaki Ibrahim Ibn Katsir, Ibn Al
Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh
naskah dialog bersejarah yang otentik. Naskah tersebut memberikan
ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar. Di samping
itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh
dalam tsawuf: Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al Sakandari, dan tokoh
yang tak kalah pentingnya dalam gerakan “Salafi”: Syaikh Ahmad Ibn
Abd Al Halim Ibn Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada
dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al
Nasir).

Kesaksian Ibn Taymiyah kepada Ibn Athaillah
Syaikh Ibn Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan
ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al
Ahzar untuk sholat maghrib yang diimami Syaikh ibn Athaillah.
Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taymiyah sedang
berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut
ramah kedatangan Ibn Taymiyah di Kairo seraya berkata:
Assalamualaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu
cendekianya ini.

Ibn Athaillah: “Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan
sholat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah
berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus
menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah
kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah
terjadi?”

Ibn Taymiyah: “Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi
perbedaan pandangan diantara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam
kasus apapun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari
kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku”

Ibn Athaillah: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibn
Taymiyah?

Ibn Taymiyah: Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan
luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak
ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih
mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah
atau lebih patuh atas perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang
anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan
menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon
pertolongan Allah (istighatsah)?

Ibn Athaillah: Tentu saja, rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau
memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil wasilah
(perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw, adalah
seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara
kita dan yang syafaatnya kita harapkan.

Ibn Taymiyah: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang
ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah
dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al Qur’an juga
disebutkan: “Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke
tempat yang terpuji (q.s. Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat
terpuji adalah syafaat.

Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali ra wafat, Rasulullah
berdoa pada Allah di kuburnya: “Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak
pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa
ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan
dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku.
Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun”.

Inilah syafaat yang dimiliki rasulullah saw. Sementara mencari
pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan;
Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas,
memohon pertolongan dari selain Allah.

Ibn Athaillah : Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai
faqih! Maksud dari saran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas,
adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui
kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan.
Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari
bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya
ingin bertanya kepada anda,” Adakah muslim yang beriman pada Allah
dan
rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki
kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah
ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri?”

” Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan
pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari
Allah? Disamping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai
ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan
saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk
mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta
pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang
dimiliknya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan: “Makanan
ini memuaskan seleraku”. Apakah dengan demikian makanan itu sendiri
yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan
kepuasan melalui makanan?

Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk
mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan,
pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada
selain Allah? Ayat Al quran yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum
musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari
Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta
pertolongan rasul adalah dalam rangaka bertawasul atau mengambil
perantara, atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah
(bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan
syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.

Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighosah atau memohon
pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan,
maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan
minuman keras, dan mengebiri laki-laki yang tidak menikah untuk
mencegah zina.

(Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini).
Lalu Ibn Athaillah melanjutkan: “Saya kenal betul dengan segala
inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh
syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih
serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan
syaitan” yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral
yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.

Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik
kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik
kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-
kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini
untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar
bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah
tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata
yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak
dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).

Ketika syaikh al islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang
sebenarnya diucapan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan
mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera
memohon ampun kepada Allah swt atas pendapatnya sebelumnya dan
menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.

Sedangkan mengenai pernyataan al Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi,
perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya,
melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi,
pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian
pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam
konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya
sendiri. “Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi
Thalib?”

Ibn Taymiyah: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda: “Saya
adalah kota ilmu dan Ali lah pintunya”. Sayyidina Ali adalah
merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran
kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha
sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena
dan
pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-
semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu
yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai!
Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang
perjuangannya.

Ibn Athaillah: Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang
berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim
bahwa malaikat jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu
kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta
mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan
sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas
mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus
dibunuh dimanapun mereka ditemukan?

Ibn Tayniyah: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di
pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.

Ibn Athaillah: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-
mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli,
memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau
dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli
gadis para penyanyi, dan menyerang msayarakat di jalan.

Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam
dan
menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya
ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai
dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas
perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan
dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?

Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas
pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri
dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta
melakukan pebuatan yang dilarang agama. Apakah anda tidak memahami
hal ini?

Ibn Taymiyah: “Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di
antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika
Rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa
mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum
miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-
robek jubah mereka; saat itu malaikat jibril turun dari surga dan
mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-
jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat jibril mengangkat satu
dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. berdasarkan
ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara
atau kaum “papa”.

Ibn Athaillah: “Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar.
Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan
penampilan saya?

Ibn Taymiyah: “Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al
Ahzar.”

Ibn Athaillah: “Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun
tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat
seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali
ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki
tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran.
Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan
kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.

Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri
telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi
kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa
dan
melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi
kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas
dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka
hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar
Risalah ( Risalatul Qusyairiyah ).

Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju
Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf
juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang
tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima
akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan
juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai
dengan mengamalkan laku spiritual.

Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah
sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi
kecintaannya pada Allah dan rasulNYA. Inilah posisi mulia yang
menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa.
Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat
menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan
tertentu.

Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar
memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia,
menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan
kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda
terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan
kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan
gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam
menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan
gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta
kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak
tampak.

Ibn Taymiyah: “Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda.
Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari
jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka.
Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang? Saya meminta
para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami
(salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi
sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah
mereka.

Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-
tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang
melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan
kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Budha, atau yang
beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu
denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh
penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud)
ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas
perilaku ateis dan kafir”.

Ibn Athaillah: “Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang
mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al
Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda
tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn
Arabi seorabg Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah),
metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan
menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al
bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama sama apa-
apa yang tersembunyi. Agara anda tidak keliru atau lupa, ulangilah
bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-
simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-
Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran
dan
sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung
perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu
ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara
yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan.
Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat
perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan
mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: Setiap
kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan
berkurang.”

Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat
untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan
jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat,
mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan
menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung
dan
Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.
Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Imam Al-
Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal
pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat
bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan
Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana
ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan
semata-mata ritual lahiriah saja.

Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati
anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al
Quran:”(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya”; dan Ia
mengutuk dalam firmanNya: “(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam
sholatnya”. Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat
mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin,
bukan lahirnya”.

Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran,
baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan
hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk
khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam
hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak
mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.

Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan)
Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli
fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap
keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah
iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang
baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).

Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal
tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki
mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah
mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka!
Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa:”Siapa saja yang
membangun keyakinannya semata-mata berdasarkab bukti-bukti yang
tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan
dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi
oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal
dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” “Adakah
pernyataan yang seindah ini?”

Ibn Taymiyah : “Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja
gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir.
Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan
yang telah anda kemukakan.”

*Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha’illah Al-Sakandari: “The
Debate with Ibn Taymiyah, dalam buku karya Syaikh Muhammad Hisyam
Kabbani’s The repudiation of “Salafi” Innovations (Kazi, 1996) h.
367-379.

Foot Note:
1. Ibn Atha’illah, Lata’if al minan fi manaqib Abi al Abbas. Pada
bagian Lata’if al-minan wa al akhlaq, karya Sya’rani (Kairo, 1357)
2:17-18.
2. Lihat Ibn Al Imad, Shadharat al dzahab (1350/1931) 6:20; Al
Zirikly, al A’lam (1405/1984) 1:221; Ibn Hajar, al Dhurrar al Kamina
(1348/1929) 1:148-273; Al Maqrizi, Kitab al Suluk (1934-1958) 2:40-
94; Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah (1351/1932) 14:45; Subki,
Tabaqat al Shafi’iyyah (1324/1906) 5:177. dan 9:23; Suyuti, Husn al
Muhadara fi Akhbar misr wa al qahira (1299/) 1:301; Al Dawadari, al
Durr al fakhir fi sirat Al Malik Al Nasir (1960) hal 200; Al Yafi’I,
Mi’rat Al Janan (1337/1918) 4:246; Sya’rani, Al Tabaqat al Kubra
(1355/1936) 2:19; Al Nabhani, jami’ karamat al awliya (1381/1962)
2:25.



0 komentar:

Blog saya yang lain : ,,,